Selasa, 28 April 2020

Jangan jadi mental pengemis

[ JANGAN JADI MENTAL PENGEMIS ] 
Oleh : Insa syarif

Jangan jadi mental pengemis dengan segala situasi yang ada,. 
Saat kita mampu, jangan sesekali pura-pura kalo kita gak mampu, Pura-pura gak mampu biar bisa dapetin gratisan. Biar bisa dapetin bantuan.  Please smart of thinking!  Kalo banyak orang yang mampu selalu bilang enggak mampu, selalu pura-pura miskin. Terus orang yang enggak mampu apa kabar?  Kejamin semuanya sudah terpenuhi haknya? Tidak bukan? Kalo seandainya orang yang mampu, terus berbondong-bondong menanti uluran tangan dari pemerintah, dapat dipastikan orang yang gak mampu tidak menerima apa-apa yang sudah menjadi haknya.  Terutama, ditengah polemik covid - 19 yang ada.  Dengan adanya pemberitahuan mengenai adanya bantuan pemerintah yang diberikan kepada setiap warga yang tidak mampu, dengan beberapa rincian-rincian syarat-syarat tertentu yang dikategorikan sebagai masyarakat tidak mampu. 

Bukan hal munafik, jika semua orang berbondong-bondong menginginkannya. Berbondong-bondong menanti dan mengatakan " Saya ini tidak mampu"  dengan penjelasan ini itu tetap saja kekeh dan bilang " Kok yang dikasih yang itu doang?  Kenapa gak semuanya di kasih?  Kok pemerintah gak adil sih?  "
Oke, berbicara mengenai kata adil.  Adil gak selalu dipukul sama rata.  Tapi melihat bagaimana tingkat kebutuhan kita juga.  Mulai dari sekarang, dari diri kita. Belajar untuk menghargai diri sendiri.  Jangan terus bilang kalo kita enggak mampu, padahal sebenernya kita mampu.  Takut allah ngedenger dan ahirnya ucapan itu jadi doa buat kita.  Dan akhirnya, kita dikasih rezeki cuma segitu. 

Ingat, ada jutaan nyawa bahkan lebih yang harus di fikirkan, yang harus diperhatikan, yang harus menjadi tolak ukur dari kita untuk bersyukur.  SEANDAINYA, semua orang mampu berbondong-bondong hanya menanti uluran tangan.  SANGGUPKAH mendengar angka kelaparan yang semakin meningkat?  Sanggupkan meningkat angka kematian karena kelaparan semakin menyebar  ? Sanggupkah mendengar para balita sakit karena kekurangan gizi?  Sanggupkah mendengar anak minum air taji karena ibu tidak sanggup membelikan susu untuknya?

Hakikatnya, manusia diberi akal untuk berfikir, diberi hati untuk merasakan. Merasakan hal-hal apa yang tidak kita rasakan, namun dirasakan oleh orang lain. Kita menahan lapar, hanya pada waktu puasa, selebihnya kita masih bisa merasakan nikmat yang tiada terhingga. Jangan jadikan situasi sebagai selimut sumber rezeki.  Dengan berpura-pura menjadi relawan dalam penanganan, padahal sudah jauh-jauh hari difikifkan bagaimana upaya yang didapatkan. 
Atau mungkin ada yang sampai tega merekayasa data, yang dari data orang - orang yang seharusnya menerima haknya, namun digantikan dengan data-data keluarga. 

Sahabat, kemiskinan bukanlah hal untuk di politisir dan dieksploitasi.  Adanya suatu kemiskinan adalah sumber amal. Kemiskinan adalah cara tuhan menguji bagaimana keimanan dan kepedulian kita. 

Mari mulai dari diri kita, berperilaku jujur, untuk menyelamatkan berjuta-juta nyawa yang memang sudah seharusnya menerima hak nya.  Sudah bukan lagi zamannya gak merata karena adanya ikatan keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar